Get money just by clicking advertisement here

Kamis, 27 Oktober 2011

Kadang Mata Bisa Bohong


Mata adalah maha karya Sang Pencipta. Dengan mata kita dapat menikmati indahnya dunia.  Aku heran dengan sebagian orang di luar sana yang justru berpura-pura buta tak bermata, hanya untuk sekedar meminta belas kasihan dan beberapa receh dari  setiap orang yang lalu lalang, sebagian lagi justru merusak mata mereka dengan tontonan tak bermoral, pornografi dan porno aksi sepertinya adalah hal yang biasa. Ah! Dasar orang-orang tak bersyukur. Tak bersyukurkah kalian dianugerahi sepasang mata yang indah? Tak bersyukurkah kalian dapat menikmati indahnya dunia? Sementara di luar sana banyak yang membutuhkan mata. Bahkan ada yang rela memberikan mata indahnya untuk seseorang yang sangat dia cintai.

Seseorang memberitahukan rahasia tentang mata kepadaku. Mata terbentuk dari tetesan air mata para Malaikat. Semua air mata mereka ditata dalam sebuah ruangan dingin dan beku bernama kesepian. Saat dua insan duniawi berharap akan hadirnya buah hati, seorang malaikat bernama cinta membuka kunci ruangan itu. Malaikat cinta mengambil sepasang air mata bulat beku, ia mengukirnya dengan ukiran penuh  kasih sayang hingga air mata itu pun berubah menjadi sepasang bola mata yang sangat indah. Ia lalu meminta izin kepada Tuhan untuk dapat memberikan sepasang mata yang indah itu kepada calon buah hati impian dua insan tersebut. Tuhan mengambil bongkahan tanah liat, membentuknya menjadi sosok manusia kecil kemudian menghembuskan nafas kehidupan kepadanya, “ Ia sudah siap.” kata-Nya. Lalu Sang Malaikat meletakkan anak itu bersama sepasang bola mata indahnya, “Dengan sepasang mata ini, kamu dapat melihat jutaan perasaan orang lewat mata mereka” malaikat berbisik sambil tersenyum senang.

17 Agustus 1995, tepat pada hari kemerdekaan Republik Indonesia, jerit tangis seorang bayi mewarnai kehidupan dua insan duniawi. Dua insan itu sungguh bersyukur  dan terpukau melihat bola mata indah sang buah hati. “Eyenice Angelina Miracle” sebuah nama yang bermakna “Keajaiban mata indah malaikat” demikian nama yang diberikan mereka kepada sang buah hati.

Masa kecil Angel tak ubahnya seperti anak-anak seusianya. Ia bertumbuh menjadi seorang anak yang cantik dan periang. Tapi sayang kebahagiaan yang ia miliki terenggut oleh hilangnya kasih sayang dari ayahnya. Sang Ayah berselingkuh dengan seorang PSK, ibunya yang merasa dikhianati pergi sambil membawa Angel bersamanya. Angel dapat melihat goresan luka mendalam hasil pengkhianatan ayahnya yang masih terus ada lewat mata ibunya.

15 tahun sudah hal itu berlangsung. Tak terasa sang anak kini telah menjelma menjadi seorang gadis cantik yang sanggup memikat jutaan hati setiap pria yang melihatnya.

Hari ini aku berangkat ke sebuah SMA di kotaku. Lulus dengan nilai yang cukup baik sedari SMP membantuku untuk dapat masuk ke sebuah sekolah ternama.
“Seluruh siswa harap berkumpul di lapangan Garuda!” pengumuman itu mengarahkan kami agar dapat segera berkumpul.
Seorang pria berkacamata berdiri di depan lapangan. “ Perkenalkan saya Ketua OSIS  sekolah ini, besok adalah hari pertama kalian mengikuti SPS (Studi Pengenalan Sekolah). Karena itu kalian harus datang pada pukul 06.00 waktu sekolah ini. Rambut diikat sesuai tanggal kelahiran, memakai baju olahraga yang diisi ke dalam, kaus kaki 30 cm dipakai di luar celana, selempang layaknya Miss Indonesia dengan ukuran 10x15 cm bertuliskan nama kalian, jika ukurannya kurang maka kalian akan menerima hukuman, jangan lupa untuk membawa ATM (Alat Tulis Menulis) dan diisi dalam tas kresek. Satu yang paling penting, JANGAN TERLAMBAT!
Pengumuman dari Ketua OSIS itu mendapat teriakan dari para calon siswa baru. Usai pengumuman aku segera beranjak pulang.

“Tininit..tinintittt…tiniiiiiittt” alarmku berbunyi pertanda pukul 04.00 pagi. “Tit!” dengan segera aku menekan tombol off  dan mematikan alarm itu, lalu kembali meringkuk di bawah selimut.

“Angel, bangun sayang. Kamu udah telat loh.” Suara ibu membangunkanku.
“Emang udah jam berapa sih bu? Masih ngantuk nih.”
Udah jam setengah 7 sayang”
“Apa? Waduh gawat aku telat!”
Secepat kilat aku beranjak mandi dan berganti baju, tak lupa juga mengikat rambutku sebanyak 17 ikatan sesuai tanggal kelahiranku. Aku pamit, kemudian menyambar tas kresek dan selempang yang sudah aku persiapkan sedari malam.

Pukul 8 tepat aku tiba di sekolah.
“Hey, kamu! Miss lelet.” Teriakan seorang kakak panitia mengagetkanku. Mulutnya terus berkotek sambil memegangi jam, matanya marah penuh tanya.
“Punya jam enggak sih? Udah jam berapa nih?
“Jam de..de..de..delapan kak!” jawabku terbata-bata.
“Dasar, masih baru saja sudah berani ngeyel. Sekarang sebagai sanksinya kamu harus lari sebanyak 3 putaran, sambil teriak kamu enggak bakal telat lagi!

Akhirnya setelah melewati berbagai kegiatan, kami diizinkan memasuki gugus masing-masing. Aku berada di gugus 1 “Gugus Soekarno-Hatta” kami memulai berbagai game perkenalan.
“Kalian harus mencari pasangan dan menempati satu kertas ini dengan kaki kalian!” seorang kakak panitia memberikan arahan.
Aku dipasangkan dengan Bima, seorang cowok tinggi tegap dan pendiam. Kutatap matanya, mata yang kosong, seolah merasa asing dengan orang-orang disekelilingnya. Berbeda dengan pasangan yang lainnya, kami melakukan gerakan tubuh tanpa mengeluarkan suara. Usainya aku kembali ke tempat duduk dan mendapat seorang teman baru bernama Tami, Tami adalah seorang teman yang baik, ia memang pendiam dan pemalu, namun semua itu justru membuatku merasa beruntung bisa berteman dengannya. Matanya yang tulus membuatku sangat percaya kepadanya.

Masa SPS pun berakhir sudah, aku bukan lagi calon siswa di sekolah ini, kini aku dan teman-temanku telah resmi menjadi siswa di sini. Betapa bahagianya saat aku mengetahui mendapat kelas yang sama dengan Tami. Masa pelajaran selalu kami lewati bersama. Aku bukanlah sosok cewek yang terbilang pintar, tetapi aku sangat bersyukur karena selalu mendapat peringkat di kelas. Aku merasa sangat senang memiliki seorang teman seperti Tami yang selalu dapat memotifasiku.

Sore itu aku mendengar akan diadakannya seleksi anggota PMR di sekolahku. Sayangnya aku sedang terbaring sakit sehingga harus banyak beristirahat di rumah. Aku mencoba menghubungi Tami untuk bertanya seputar seleksi itu.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan.”
“Tami, where are you? Please  pick up my phone!” aku mengirimkan sebuah pesan ke ponselnya.
Aku mencoba menghubunginya kembali, namun tetap tidak berhasil. Aku mendapat ide untuk menghubungi orang lain yang mungkin dapat memberitahuku tentang seleksi itu. Kemudian mencari nama seseorang di ponselku untuk dihubungi, pandanganku terhenti pada sebuah nama.
“Bima!” yah, dia adalah temanku sewaktu aku berada di gugus. Badannya yang tegap dan tinggi membuatku berpikir bahwa ia pun akan mengikuti seleksi itu.  Aku terdiam untuk beberapa saat, sejenak aku ragu untuk menghubunginya. Hal ini mengingat dia adalah sosok yang sungguh tertutup, tertutup seperti ayahku inilah yang membuat aku selalu menganggap setiap orang yang pendiam adalah orang yang jahat, jahat seperti ayahku. Namun rasa ingin tahuku lebih besar dari pada rasa raguku, akupun memberanikan diri bertanya kepadanya.

Mt sore, ni nomornya Bima kan? Aku Angel qta satu gugus waktu itu, masih ingat?
Btw, kamu mau ikut seleksi PMR enggak??
Pesan terkirim : 082256756931  

Ya, mt sore juga, ia ini Bima. Oh Angel yah, iya aku ingat.
Hmm.,, iya aku juga ikut seleksi kamu ikut juga kan? Jangan lupa yah, besok datang buat seleksinya
Pesan masuk : 082256756931  

Pesan masuk dari bima membuatku semangat, esok harinya pun aku mengkikuti seleksi itu. Sungguh hasil yang tidak mengecewakan karena aku dan Bima akhirnya dapat lolos masuk dalam anggota Wira PMR di sekolah ini. Hal ini menambah kedekatan kami. Bima yang pada awalnya kelihatan pendiam ternyata tak seperti dugaanku, dia adalah sosok yang asyik diajak sharing. Dia menjadi sosok yang pendiam sejak ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dalam kecelakaan pesawat. Sungguh aku merasa bersalah telah seenaknya menilai dia sebagai orang jahat.   

Kami mulai sering berjalan bersama, komunikasi pun semakin lancar. Kedekatan yang hanya kuanggap sebagai hal yang biasa kini berubah aneh. Aku melihat keanehan dari pandangan matanya. Pandangan yang dahulu biasa-biasa saja, kini berubah menjadi pandangan yang tak bisa ku baca. Entah kenapa aku merasa nyaman berada di dekatnya, matanya selalu teduh dan penuh perhatian,
Ada apa ini?
Cintakah?
Angel, sadar! Kamu masih terlalu kecil untuk usia pacaran. Kamu harus fokus! Kamu juga enggak pantas buat dia.” Aku berkata dalam hati.

Sayang, lagi ngapain? Udah makan belum?
Pengirim: 082256756931
Bima!

Sms dari Bima mengagetkanku, secepat mungkin aku membalas smsnya.
“Sayang..sayang, palamu peang? :p “
“Emangnya ada yang marah yah, kalau aku panggil kamu sayang?”
 “Enggak ada sih, aku cuma enggak suka aja L !”
“iya deh maaf, tapi kan kalau sayang sbagai teman pasti bisa J
 “ya udah lah terserah kamu aja”

Ujian akhir semester pun tiba, ia semakin sering memanggilku dengan panggilan sayang, Tami iseng dan membaca pesan di ponselku.
Ciee.. udah jadian sama Bima yah?” teriaknya keras, saking kerasnya hingga semua mata tertuju pada kami berdua.
Hah! Bima? ah, enggak tuh, aku cuma anggap dia sahabat aku aja”
“Ehmm,, jangan bohong deh, nih buktinya udah pake sayang-sayangan.”
“yee, dia aja yang mau manggil aku kayak gitu”
“Jangan-jangan dia naksir kamu tuh!”
“udah ah jangan ngeledek terus, ke kantin yuuk!”

Malam harinya aku terus terbayang dengan perkataan Tami. Aku mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan pendek pada Bima.
“Bim, kalau boleh jujur, selama ini aku egois yah?”
“Enggak, emang kenapa? Tumben tanya kyak gitu!”
“Aku ngerasa egois aja, selama ini aku hanya mikirin perasaanku sendiri”
“maksudnya?”
“Selama ini aku hanya pikirin perasaaanku aja, tapi lama kelamaan aku jadi penasaran, sebenarnya perasaan kamu sama aku tuh kayak gimana?”
“Aku sayang sama kamu, terserah kamu mau aku sayang sebagai apa”
“hahaha.. :p hari gini bercandanya kayak gitu. Basi tau!”
“Aku enggak bercanda njel. Aku serius, aku emang tau kamu belum mau pacaran kan? Aku tau kamu masih pengen fokus belajar, aku sadar aku bukan orang yang sempurna, tapi beneran, aku sayang kamu, cumin kamu yang bisa ngertiin aku. Mau jadi pacarku?
“Sorry, aku enggak bisa, makasih udah sayang sma aku, tapi kita temenan aja yah, gpp kan?”
“ok, gpp.. tapi please, jangan jauhin aku yah”
“Siip..sipp.. janji deh :D”

Meskipun status kami hanya sebagai teman, tetapi Bima masih terus mencoba mendekatiku, lama kelamaan membuat hatiku luluh. Prestasiku pun menurun, dan mengantar Tami menjadi juara kelas.
Waktu terus berganti, kini aku duduk di kelas 2 SMA, aku mulai merasa ada yang lain dari pandangan matanya. Mata yang dahulu memandang teduh dan perhatian kini berubah menjadi pandangan yang sulit kutebak.

Njel, kamu tau enggak. Sebenarnya Bima tuh enggak serius bilang sayang sama kamu, dia cuman mau buat kamu besar kepala aja
Pengirim: 085948631975 (Tami)
Sebuah pesan dari Tami mengagetkanku, aku kaget namun aku berusaha untuk tidak menanggapinya.

Tuhan memang satu, kita yang tak sama, haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi, lirik lagu Marcell pertanda panggilan masuk berdering dari ponselku.
Bima! Ternyata panggilan itu berasal darinya. Aku memilih untuk tidak mengangkatnya. Perlahan rasa itu kembali ada, jujur aku mulai menyayanginya namun aku kembali berpikir dengan sms Tami tadi.
“Bodoh.. bodoh kamu angel! Kok bisa sih, kamu sayang sma orang yang udah nganggap kamu serendah ini?” hati ini sakit. Tak sadar air mata mengalir perlahan dari mataku.

Malam berganti pagi, mengantarku kembali ke sekolah, aku memutuskan untuk menemui Bima di kelasnya. Tapi, aku mendapati sebuah pemadangan yang sungguh menyakitkan. Tami, orang yang selama ini begitu ku percaya ternyata adalah dalang di balik semuanya, ia  dan Bima sepakat untuk membuatku seperti ini, ia melakukannya karena ia iri dengan prestasiku yang selalu diatasnya. Ia dan Bima telah menjalin hubungan sejak kami berada di kelas 1, aku merasa dibohongi, hatiku hancur, luka lama itu kembali terkuak, aku kembali terbayang sosok ayah yang begitu kejam kepadaku dan ibu. “Semua lelaki ternyata sama saja, pembohong, kejam, pengkhianat!” dan Tami, aku sungguh sangat kecewa padanya.

“Prak!” aku tak sadar menyenggol bangku di sampingku”.
“Angel!” Bima dan Tami serentak melihatku.
Mata mereka seolah menyembunyikan sesuatu.
Bim, Tam, makasih udah buat aku kecewa kayak gini. Tami, aku makasih banyak yah, karna kamu udah bantu aku selama ini, mungkin aku bukan sosok teman yang baik untukmu. Maafin aku yah, kalau udah banyak salah, makasih udah buat aku sadar tentang kejamnya dunia ini.
“Njel, aku minta maaf”  Tami menyusulku.
Tak terasa air mataku berlinang.

Dengan mata ini aku melihat perasaan seseorang, aku percaya seseorang dapat berkata melalui matanya, tapi fakta berkata lain. Kini aku mengerti mengapa banyak orang memilih tidak memiliki mata, itu semua karena mereka tidak ingin melihat kejamnya dunia, mereka tidak ingin menyaksikan kebahagiaan fana, mereka memilih menutup mata agar tak perlu lagi jatuh cinta. Aku sadar tak selamanya mata berkata jujur, kadang mata bisa bohong. Pandangan seseorang tidak dapat diartikan begitu saja seketika, karena di balik pandangannya menyimpan sejuta rahasia.

Kini, tinggallah aku dan kenangan seragam putih abu-abu, aku telah mendapatkan seseorang yang sangat mencintaiku, meskipun mata ini telah tiada, aku masih dapat melihat tatapan indah kekasihku. Warna senyumnya menghiasi hari-hariku, ia seorang tunanetra. Hal yang sama terjadi pada anak kami. “Ia buta” aku, memilih memberikan mataku kepada buah hatiku seraya berharap agar ia dapat membawa sepasang air mata malaikat ini bersamanya, menikmati jutaan perasaan dan indahnya dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar