Get money just by clicking advertisement here

Sabtu, 06 Agustus 2011

Tetes Perih Kamar Itu



Aroma harum bunga musim semi, mekar indah bunga sakura bak karpet merah muda membawaku kembali pada memori di masa itu. Figur seorang wanita muda, mengisi pikiranku, Tepatnya sebulan yang lalu, ditemani sinar sang rembulan dan taburan bintang-bintang terdengar isak tangis, perasaan takut dan ragu mengisi pikiranku, “Suara apa itu?” tanyaku dalam hati. Dari kejauhan aku melihat sosok wanita muda berurai air mata di sudut bangku taman ini. Sejuta tanya timbul di hati. Terdorong rasa keingintahuanku, perlahan-lahan aku mengayunkan langkah menghampiri wanita muda itu. “Mengapa kamu menangis?” tanyaku. Seolah tak sadar akan keberadaanku ia tetap larut dalam tangisannya. Bingung, tak tahu harus berbuat apa, secara spontan kukeluarkan sapu tangan biru dari sakuku. “Terimakasih” katanya sambil tetap terisak. Aku menanggapinya dengan menganggukkan kepalaku. Kupandang wajahnya, riasan wajah, hitamnya mascara, semua luntur oleh tetesan air mata.  
 Cukup lama kami terdiam bersama di tempat itu.  Malam semakin pekat, bulan bersembunyi di balik kelamnya awan, lolongan anjing terdengar di seluruh pelosok penjuru, suara lolongan yang perlahan terdengar berupa tangisan, seakan mereka mengerti pilu sang wanita.
“Aku harus pergi.” kataku memecah suasana.
“Ya” jawabnya singkat.
“Ingin pulang denganku?”
“Tidak, terimakasih. Aku masih ingin disini, menikmati harum kemenangan pedih”  katanya sambil tersenyum kearahku.
Aku tertegun sejenak, namun tak kuhiraukan kata yang ganjil itu.
“Bye, See you next time!” kataku sambil berjalan pergi.
Malam bertambah larut , perasaan capek menjalar di sekujur tubuhku.  Aku tertidur, seraya berharap esok kan menjadi hari yang lebih baik.
Sang mentari memantulkan cahayanya di kaca jendela apartemenku. Rasa kantuk ini masih merajalela di tubuhku, kutarik kembali selimut tebalku dan meringkuk di baliknya.
“Praang!” aku di kagetkan oleh bunyi barang pecah di apartemen sebelah, “Hahahahaha” sebuah suara terdengar lagi. Bunyi dan suara misterius tersebut selalu terdengar ganjil bagiku. Ya, memang sungguh ganjil, karena bunyi-bunyian tersebut hanya dapat terdengar pada jam 6 pagi dan jam 12 malam.
Terkejut oleh bunyi misterius itu, sontak aku terbangun dari tempat tidurku.
“Tinininit, tinininit, tinininit” suara alarm memacu adrenalinku, “Gawat, aku terlambat!” kulirik jam di dinding menunjukkan  pukul 9 lewat 30 menit. Segera aku berlari menuju kamar mandi, dengan secepat kilat aku mandi dan berganti pakaian. Aku berlari menyusuri tangga lalu memanggil Taxi. Hari ini adalah hari pertamaku memulai kerja di salah satu perusahaan detektif di kota kecil itu. Dengan rasa gundah, sesekali kulirik jam tangan yang melingkar di tanganku, aku berhenti di sebuah kantor, yang mulai hari ini menjadi bagian dari hidupku.
“Maaf, saya terlambat” kataku sambil mengatur nafas.
“Hmm, bukankah ini hari pertama kau bekerja?”
“Ya”
  “Baiklah, untuk sekarang aku memaafkanmu, tetapi sebagai sanksinya kau harus mengambil jam kerja lembur untuk satu minggu”
Trims, saya siap menerima sanksi yang bapak berikan”  jawabku lega.
Aku menuju meja kerjaku. Mengumpulkan data, menyatukan barang bukti dan beragam tugas lainnya. Akhirnya waktu lembur bagiku pun usai sudah. Dengan rasa letih, aku berjalan keluar dari kantor, dengan Taxi  yang ku panggil, aku kembali ke apartemen.
Belum sempat aku memutar kunci kamarku, tiba-tiba suara misterius  itu terdengar lagi, kali ini berupa bunyi peluru yang di tembakkan. “Ah, apa lagi ini?” kataku dalam hati, secara perlahan, aku mengintip lewat lubang kunci kamar apartemen tersebut. Betapa kagetnya, aku melihat tetesan darah mengalir keluar dari pintu apartemen tersebut.
Perasaan ngeri merasuk tubuhku, dengan perlahan-lahan aku meninggalkan tempat tersebut, dan kembali ke kamar apartemenku.
Malam berganti siang, perasaaanku berkecamuk, konsentrasiku buyar, pikiranku tak dapat lepas dari peristiwa semalam. “Aku harus menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi, ini sebuah kasus yang menarik” ucapku dalam hati.
Malam itu kuputuskan menyelidiki kasus tersebut. Aku kembali mengintip lewat lubang kunci pintu kamar apartemen itu. “Situasi aman” pikirku. Aku memutar gagang pintu kamar tersebut , “Tak terkunci!” aroma menyengat minuman keras, menyebar di seluruh ruangan kamar, tumpukan karung putih ditutupi kain hitam, tertata rapih di seluruh ruangan. Kuambil pisau lipat kesayanganku, dan merobek karung tersebut, tak kusangka tumpukan karung putih itu berisi daun ganja kering, yang siap diolah menjadi obat-obatan terlarang. Kamar apartemen ini, ternyata adalah gudang penyimpanan yang tak pernah terdeteksi. Aku mencatat setiap hal yang aku temukan di jurnalku. “Tolong, aaaaaahh, tidaak, jangan!” suara seorang wanita mengagetkanku, suara itu berasal dari kamar mandi kamar tersebut. aku mengendap menuju kamar mandi tersebut, lagi-lagi kutemukan tetesan darah bercampur dengan air, mengalir lewat pintu, aku mencoba  mengintip apa yang terjadi. Wajah wanita muda yang tak asing untukku, kembali terlihat kali ini, wanita yang kutemui ditemani isak tangisnya di bangku taman itu, kini berubah menjadi sosok wanita yang lain, menggenggam pistol di tangan kanannya sambil  tertawa puas lepas seolah dialah pemenangnya.
“Ada apa ini? Aku tak mengerti!”
“Misteri baru, tetes perih kamar itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar