Seputih sayap, seputih cinta
Cinta yang terlarang, haruskah?
Dari jauh kulihat sosokmu, putih bersih dengan senyuman menawan. Namun apa yang terjadi dengan matamu? Kau BUTA.
Aku bertanya :wahai malaikatku tersayang, mengapa buta matamu?
Jawabmu :Aku buta oleh cintamu, lebih baik aku buta tetapi aku dapat melihat jutaan rahasia daripada aku memiliki mata namun harus menyaksikan akhir kisah kita.
Aku memelukmu dengan erat, tak ingin kulepas. Kulekatkan hatiku dengan hatimu. Ada apa ini? Ada sesuatu yang aneh dengan hatiku, begitu perih rasanya. Semakin erat dekapanmu semakin perih hati ini, perlahan kusaksikan kepingan hati kita menyatu menjadi suatu bentuk hati suci yang utuh.
Argh.. perih yang kurasa menjalar ke seluruh tubuhku, punggungku serasa ringan, aku melayang, sayapku hilang. Aku terjatuh di sudut kota gelap gulita, aku telanjang. Kusembunyikan diriku dibalik dinding tinggi menjulang.
Kurasakan kedatanganmu, kau membawa hati kita, hati itu kini terluka dan menangis. Aku mencoba untuk tetap sembunyi dari pandanganmu.
“aku memang buta, tapi cukup mataku yang hilang, jangan lagi dirimu” katamu.
Perlahan aku keluar dari tempat persembunyianku. Kau tersenyum, kupandang wajahmu dan kuhentikan sejenak tatapanku pada matamu, ya, sepasang mata yang buta bak sepasang liang menganga terpampang jelas didepanku. Malaikat lain sering menghina matamu, namun tidak dengan diriku. Karena dengan matamu itulah aku mencintaimu, aku sang malaikat kesepian ini melihat kekosongan matamu. Kosong, sangat kosong dan dalam kekosongan itulah aku dapat melihat cerminan diriku berada dalam matamu, cerminan diri sebuah sosok yang kosong dan kesepian.
Kau tersenyum dan memelukku, namun takdir berkata lain, petir kian menyambar, langit marah! Sang petir datang memaksamu untuk meninggalkanku. Air mata ini tak hentinya berlinang, linangannya jatuh tepat di hati kita. Hati yang semula bersedih kini mulai tersenyum, tetesan air mata ini berubah menjadi sepasang sayap yang indah untuk hati kita.
Sayang, lihatlah! Hati kita terbang.
Kau berpaling memberikan senyumanmu, dan matamu,, Ah,,, apa yang keluar dari matamu?
Darah! Air mata darah. “Kau Pergi”
Tak pernah terlintas dibenakku akan kejadian ini, kita hanyalah dua sejoli yang terikat dengan hukum alam yang berlaku. Mengapa ini semua harus terjadi?
Aku sayang kamu…
Apakah salah jika seorang malaikat kesepian memadu cinta bersama seorang malaikat yang buta?
Mengapa, mengapa dan mengapa?
Ah.. Bosan aku dengan jutaan kata tanya, pusing aku dengan fakta yang ada, fakta yang dengan jelasnya menyatakan akhir kisah kita.
Malam ini kudengar bisikmu lewat lelapku.
“I Love You, walau raga kita kian terpisah, namun ingatlah hati kita selalu menyatu”
Aku tersenyum, kurasa ada tetesan air mata menetes di pipiku, pikirmu itu air mataku?
Kau salah! Itu adalah air mata hati kita.
Aku terbangun dan berbisik pada hati kita:
“Aku sayang kamu, kan kujaga hati kita untukmu, wahai malaikat cintaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar